Tanggal Hari Ini : 22 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Yos Rizal Disini Kami Hidup Di Sini Kami Berkarya
Rabu, 11 Mei 2011 20:57 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Pasar adalah sebuah komunitas bisnis yang banyak kehidupan bergantung kepadanya. Pedagang,  pengrajin serta ribuan pengusaha hidup dari geliat kehidupan di sini. Rakyat, dari semua strata, terkhusus dari kalangan menengah bawah menjadikannya rumah usaha yang mampu mensejahterakan.
Pasar juga mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi ribuan bahkan jutaan manusia yang hidup darinya. Sayangnya, pemerintah kini mengabaikan pasar, khususnya pasar-pasar  tradisional. Modernisasi pasar dan kawasan bisnis yang dikelola  negara dan pemerintah lambat dan kalah cepat dan mall-mall atau pusat-pusat berbelanjaan milik swasta. Sarana dan prasana juga minim perhatian. Terlebih para pengusaha yang hidup di dalamnya. Yos Rizal (39) adalah satu dari  sekian banyak pengusaha kecil yang menghuni kawasan bisnis Pasar Kramat Jati.


Kini telah 15 tahun berlalu, Yos Rizal, asal Padang Pariaman, Sumatra Barat ini melalui hidupnya di Kawasan Pasar Kramat Jati. Lima belas tahun, semuanya terasa panjang namun perubahan yang lebih baik tak kunjung datang.


Meski segalanya terbatas, Yos tetap menjadikan Pasar Kramat Jati sebagai lahan hidup yang harus terus dipertahankan.


“Di sini kami hidup, di sini kami berkarya,” ujarnya.
Mungkinkah Kami Bisa Besar? Telah lima belas tahun Yos membuka usaha di tempat ini. Sungguh waktu yang tidak terasa. Waktu terus berjalan, entah berapa tahun lagi ia mampu bertahan. Ia tetap seperti dulu, menerima pesanan jahitan seragam sekolah, seragam kerja hingga berbagai kebutuhan seragam kantor lainnya.

Karena persaingan yang ketat pulalah kadang ia cukup puas hanya sebagai sub dari beberapa perusahaan yang memiliki modal besar dan memiliki order besar. Biasanya para pemenang tender yang memperoleh order besar mengalihkan pekerjaan kepada mereka dan teman-temannya.
           

“Kami tidak memiliki modal untuk menerima pesanan dalam jumlah banyak. Karena setiap pesanan dalam jumlah banyak biasanya pembayaran dilakukan setelah barang diserahkan. Untuk membeli kain dan ongkos kerja itulah yang jadi kendala kami,” ujarnya.
Kini meski dengan fasilitas terbatas, dan ruangan kerja yang jauh dari nyaman, Yos tetap berkarya sebagai penjahit profesional dengan beberapa pekerjanya. Ia menetapkan harga ongkos jahit sebesar Rp125ribu hingga Rp150 per stel seragam, harga tersebut sudah termasuk kain, namun harga akan berubah jika menggunakan bahan yang diinginkan oleh pelanggan. Relatif murah dan bersaing.
           

Cukup banyak perusahaan yang menjadi pelanggannya. Pembuatan seragam pakaian dinas harian dari perusahaan swasta maupun pemerintah adalah salah satu pekerjaan rutin yang dilakukannya. Juga klinik-klinik, rumah sakit, hingga perusahaan perparkiran dan swasta lainnya. Dalam sehari, usahanya mampu menyelesaikan 20 stel jahitan seragam, dengan omzet hingga mencapai Rp 1,2 juta. Sesekali ia memperoleh pesanan pekerjaan yang besar sehingga omzetnya kadang-kadang lebih besar dari itu.
           

Dalam menjalankan bisnisnya, Yos dibantu oleh dua orang karyawan tetap, dan istrinya.  yang salah satunya adalah isterinya. Suatu hari nanti Yos berharap dapat membuka perusahaan konveksi atau butik yang memiliki lokasi di pinggir jalan raya sehingga mudah dikenal oleh masyarakat dan pelanggannya.
“Saya masih mengandalkan rumah dan pasar sebagai tempat kerja. Suatu hari saya ingin tempat yang lebih besar dan mudah dijangkau,” akunya.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari