Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Santoso Hartono Musim Cerah Batik Lasem
Kamis, 03 Mei 2012 16:25 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Di tengah geliat dan semaraknya batik sebagai kekayaan dan karya adiluhung  bangsa Indonesia,  batik Lasem, memberi warna tersendiri bagi khasanah batik Indonesia. Coraknya yang  ‘berani’  merupakan  ciri khas batik  Lasem. Batik Lasem juga  terlihat sangat berbeda dengan batik Solo, Pekalongan, Banyumasan atau Yogya, terutama dari warnanya yang lebih mencolok jika dibandingkan dengan jenis batik lainnya.

Batik Lasem  yang konvensional  biasanya dibuat dengan  motif  gambar burung hong, pokok – pokok pohon bambu, atau singa-singaan, khas motif hasil kolaboratif  dari perpaduan  budaya China dan Jawa, khususnya Jawa pesisiran.

Namun seiring dengan perkembangan zaman,  motif batik Lasem kini berkembang, ada motif kupu-kupu dengan aneka flora dan fauna, atau perpaduan bentuk dan motif inovatif lainnya, dengan tetap mempertahankan warnanya yang khas,  yaitu  perpaduan merah marun, kuning tua,  dan ungu yang  ‘ngejreng’. 

Corak dan motif batik Lasem yang berbeda tersebut tidak lepas dari sejarah keberadaan orang-orang Tionghoa yang ada di daerah tersebut.Menurut  sejarah, sejak abad ke 14, di  Lasem  telah ada perkampungan Tionghoa, sehingga  Lasem sering disebut juga sebagai  ‘miniatur desa Tionghoa’ di Jawa. Tidak heran jika hasil batik yang diproduksi masyarakat  Lasem memiliki corak budaya Tionghoa, dan orang sering menyebutnya batik dari Lasem dengan sebutan batik Lasem.

Santoso Hartono (44) adalah salah satu dari sedikit pewaris  pembatik dari Lasem, yang mau menekuni dan melestarikan batik Lasem ini. Anak kedua dari enam bersaudara pasangan Tirto Hartono (Ang Tjay Gwan)-Sri Endah Wahyuningsih (Djie Frieda) ini adalah generasi ketiga pembatik di keluarganya.

Ketika Santoso kecil, ia mengetahui usaha orangtuanya di bidang batik cukup laris. Pengiriman batik bukan hanya untuk memenuhi permintaan di Kawasan Rembang, Jawa Tengah  tetapi juga diminati hingga ke kawasan Jawa Timur dan Sumatra.

Namun tahun demi tahun usaha batik Lasem milik orangtuanya mulai tergusur dengan kain-kain yang diproduksi oleh pabrik tekstil. Nasib batik, termasuk batik Lasem sempat terpuruk dan ditinggalkan oleh masyarakat. Seingat Santoso, sekitar tahun 1980 usaha batik milik keluarga itu akhirnya terpaksa ditutup.

 

Rindu Batik Lasem

Sebagai generasi penerus pembatik Lasem, Hartono sejak kecil telah akrab dengan dunia batik. Ia bahkan kerap membantu orangtuanya mengangkat dan menyiapkan kain mori untuk dibawa kepada para pekerja yang siap membatik. Kenangan bergelut dengan usaha batik, dan pemandangan sehari-hari dengan dunia batik teringat kuat di benak Santoso. Namun ia tak berdaya. Ekonomi keluarga jatuh, dan semua ingatan di masa kecil tentang batik hanya menjadi kenangan belaka.

Seperti pemuda Lasem lainnya  yang banyak merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib, Hartono usai lulus  dari SMEA Yos Sudarso, Rembang tahun 1987 juga mengikuti jejak teman-temannya, mencari pekerjaan di kota Jakarta. Di kota metropolitan ini bekerja apa saja, mulai dari  menjadi pengumpul sampah plastik hingga buruh pabrik furniture.  Tidak banyak harapan yang dapat diraih di Jakarta. Sampai akhirnya tahun 1999  ia memutuskan pulang kembali ke Lasem karena kedua orangtuanya mulai sakit-sakitan, dan terkena stroke berat. 

Kepulangannya ke Lasem selain  ingin menjaga orangtuanya yang sudah tua, juga ingin meneruskan dan menghidupkan kembali  usaha batik Lasem milik orangtuanya yang sudah ditutup.  Keinginan tersebut muncul karena di Jakarta ia mendengar ada anjuran pemerintah agar anak-anak sekolah, pegawai negeri, serta pegawai swasta menggunakan batik. Saat itu banyak usaha batik yang semula mati suri mulai hidup kembali, dan ia ingin batik Lasem  juga dapat bangkit kembali.

Meski telah bergelut dengan dunia batik sejak kecil, namun keikutsertaannya dalam pelatihan batik pada tahun 2005 yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang membuat semangatnya kembali ‘hidup’ dan keinginannya menggelora untuk membuat batik Lasem dikenal kembali di kancah perbatikan nasional.

Usai pelatihan batik, Santoso mulai membuka usaha kembali dengan modal pinjaman sebesar Rp15juta. Ia mulai mengumpulkan kembali para pembatik, dengan modal yang ada. Hasilnya ia bawa ke Jakarta untuk dijual dan dipamerkan dalam sebuah pameran batik.  Hasilnya saat itu memang belum seberapa, karena masyarakat Jakarta belum banyak yang mengetahui dan memahami batik lasem. Namun melalui pameran itulah ia mendapat banyak order dan pesanan, terutama pesanan dari para kolektor dan penggemar batik dari kota-kota besar di Indonesia.  Pameran demi pameran terus diikutinya, meskipun saat itu ia harus menanggung biaya sendiri setiap mengikuti pameran yang cukup mahal, namun sepadan dengan harapan yang ia inginkan. Jika dahulu batik Lasem hanya didistribusikan ke beberapa daerah, seperti Banten dan Surabaya, kini pusat distribusinya merambah ke daerah-daerah lain seperti ke Solo, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan Medan.

 

Dukungan Bank BRI 

Ketika ‘pamor’ batik Lasem mulai menggeliat kembali, Santoso menggulirkan ide membuat ‘griya batik Lasem’ di sebuah gedung bekas kantor Wedana Lasem. Tujuannya, semua pembatik Lasem yang tergabung dalam Koperasi Batik Lasem dapat berpromosi dan memasarkan aneka produk pembatik yang beraneka ragam secara bersama-sama. Menurut  Santoso, dari 57 pengusaha batik yang ada di Lasem, 32 orang sudah menjadi anggota koperasi, sisanya yang 25 orang masih ‘takut’ untuk bergabung.“ 25 penguasaha batik yang belum tergabung di Koperasi Batik Lasem tersebut sebagian besar adalah pengusaha keturunan yang sudah tua yang trauma dan takut kalau diajak ngumpul-ngumpul,” ujar ayah 3 anak ini.

Dengan bergabung dalam sebuah paguyuban koperasi, banyak keuntungan yang diperoleh, misalnya pada tahun 2009 dan 2010 lalu, Koperasi Batik Lasem mendapat dana bantuan  dari Departemen Koperasi. Bahkan 14 dari 32 anggota koperasi juga memperoleh kredit untuk pengembangan usaha dari Bank BRI Cabang Rembang. Selain mendapatkan kredit, Paguyuban  Koperasi Batik Lasem  yang dipimpin Santoso Hartono juga diajak mengikuti pameran Inacraf  dengan dukungan Bank BRI.

Bahkan sejak bulan September 2010, Santoso Hartono bersama Bank BRI membuka program ‘Batik Village Areas’ yang berlokasi di Desa Sumber Girang dan Ngropoh. Program ini selain menjadikan Lasem sebagai gugus ekonomi untuk usaha batik, juga memprogramkan 4 kegiatan, yaitu pelatihan membantik untuk meningkatkan mutu, perbaikan sarana umum, pameran dan kemitraan.

Pelatihan membatik yang diberikan meliputi pelatihan tingkat dasar, dan tingkat lanjutan. Melalui pelatihan tingkat dasar pengrajin batik memiliki keahlian berkualitas, sedangkan pelatihan tingkat lanjutan ditujukan kepada pengrajin batik yang bukan saja dapat menghasilkan batik yang siap dijual tetapi mampu membuat batik dengan seni berkualitas tinggi. Peresmian pelatihan batik tulis telah dilaksanakan pada bulan Pebruari 2011 lalau, dan Bank BRI akan mengikutsertakan produk batik Lasem di pameran-pameran kerajinan khas Indonesia baik skala nasional maupun intenasional, hal ini agar batik Lasem dikenal oleh masyarakat luas dan mmpermudah pemasarannya.

 

Terus Berinovasi

Salah satu keunggulan batik Lasem adalah murni batik tulis, tanpa teknik cetak atau batik celup seperti yang banyak dipraktekkan di sentra-sentra batik dari daerah lain. Selembar batik Lasem bisa dihargai Rp100ribu hingga Rp700ribu.         Meski saat ini sedang musim cerah batik, Santoso Hartono berharap pemerintah tetap

mempertahankan kewajiban berseragam batik bagi pegawai negeri, atau turut mensosialisasikan penggunaan batik kepada semua masyarakat. Dukungan itu, menurut Santoso sangat besar artinya bagi kebangkitan industri batik di tanah air. Melalui pameran batik di berbagai event ia yakin  batik Lasem akan dikenal lebih luas oleh masyarakat, dan akan diminati oleh masyarakat.

Santoso mengungkapkan, usaha batik merupakan usaha padat karya yang membutuhkan sangat banyak tenaga kerja pembatik, dan umumnya berada di pedesaan . Sangat cocok dengan program pemerintah untuk meningkatkan lapangan kerja bagi masyarakat di daerah sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.

“Meski pasar batik Lasem cukup cerah, namun tantangannya juga kian besar. Di pasaran kini banyak beredar  kain printing bermotif batik Lasem yang dijual dengan harga separuh dari harga batik Lasem yang sebenarnya. Selain itu harga bahan baku kain dari semula Rp15 ribu per potong naik menjadi Rp25ribu per potong karena harga kapas naik hingga 100 persen,” cetusnya.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari