Tanggal Hari Ini : 22 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Menyulap Lahan Tidur Jadi Tempat Budidaya Belut
Jumat, 04 Mei 2012 16:51 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Melihat lahan ‘tidur’ yang terlantar  di dekat asrama mahasiswa IPB,  Syahroni dan Praja, dua teman sekampus ini berniat menyewa lahan tersebut. Lahan itu sebelumnya adalah lahan tak terurus, dipenuhi semak, dan terkesan angker karena jarang dijamah orang.Di benak kedua anak ini, lahan tersebut akan digunakan untuk membuka usaha, tetapi hingga uang sewa mau dibayarkan ia belum mengetahui jenis usaha apa yang akan dilakukan di lahan tersebut.

Akhir tahun 2009, Syahroni dan Praja menyewa lahan seluas 400 m persegi sebesar Rp600 ribu, dengan harapan akan menggunakannya untuk membuka usaha. Langkah pertama yang ia lakukan adalah membersihkan lahan tersebut  dari tumbuhan  semak-semak dan gulma yang banyak tumbuh di sana.

Sembari membersihkan lahan kedua orang ini berfikir, lahan ini kira-kira mau digunakan untuk usaha apa yang tepat, bagaimana cara memulainya, padahal ia tidak memiliki uang lagi untuk membuka usaha di lahan tersebut.

Berdasarkan informasi yang ia peroleh, lahan terlantar tersebut sebelumnya adalah bekas kolam ikan, dan memiliki sumber mata air yang bagus. Setelah lahan mulai tampak bersih, ia berfikir dilahan tersebut cocok untuk budidaya belut, pertimbangannya, belut selain mudah dipelihara juga tidak memerlukan modal besar, pemasaran belut juga gampang.

 

Bingung Tak Ada Modal

Untuk memulai usaha budidaya belut,  mereka masih terkendala modal, maklum mereka belum memiliki uang tabungan yang cukup. Ia kemudian mengajak dua teman lainnya, Citra dan Santy untuk ikut bersama-sama membuat rencana usaha budidaya  belut.

 Gayung bersambut, kedua mahasiswi ini ternyata  tertarik untuk bekerjasama membuat sebuah usaha, disela-sela waktu kualiahnya.Awal Februari 2010, usaha budidaya belut ia mulai. Usaha ini ia beri nama Agromina. Namun sebelum usahanya benar-benar dimulai mereka melakukan survey tentang cara budidaya belut yang baik, aspek pemeliharaan, pemasaran serta potensi lainnya ke sentra belut terbesar di Sumatra, yaitu  Lampung.

“Saya  ingin melihat bagiamana sih bentuk fisik belut yang memiliki pemasaran bagus, sekalian juga aspek pemasarannya,” ujar Roni.Berdasarkan hasil kunjungannya ke Lampung tersebut, dapat disimpulkan bahwa prospek bisnis budidaya belut memang sangat menjanjikan. Harga per ton belut segar bisa mencapai Rp20juta, belum lagi potensi pasar dalam negeri yang masih sangat luas dan banyak.  

.Mencari Investor

Setelah mengantongi data mengenai potensi bisnis budidaya belut yang memang sangat manis, Roni bersama ketiga temannya merancang sebuah bisnis budidaya belut secara professional. Ia kemudian membuat proposal lengkap untuk mencari investor yang berminat menjadi bapak angkat usahanya. Ia menjanjikan akan memberikan system bagi hasil yang prospektif atas usaha tersebut.

Bulan Mei 2010, baru ada satu orang investor yang tertarik. Saat itu ia menjanjikan dukungan dana investasi sebesar Rp25juta atau hanya seperlima dari nilai proposal yang ia ajukan. Calon investor menjanjikan uang sebesar Rp25 juta yang akan dibayarkan secara berkala dan bertahap. Tahap pertama ia memperoleh dukungan modal sebesar Rp3juta, yang digunakan untuk membangun infrastruktur tambak / kolam untuk budidaya. Namun uang tersebut sebenarnya terlalu sedikit dari biaya yang diperlukan. Meski demikian, dengan biaya yang minim tersebut mereka tetap mengupayakan membuat sebanyak 3 petak kolam agar dapat digunakan untuk memulai usaha.

Tak lama kemudian,  lanjut Roni, ia dan teman-temannya memperoleh kucuran dana kembali dari investor sebesar Rp 8 juta. Dana tersebut ia gunakan untuk membeli cacing sebagai bahan baku pakan untuk indukan belut sebanyak 20 kg. Namun untuk menghemat biaya, ia memutuskan beternak cacing terlebih dahulu sebagai bahan baku pakan belut.

Dengan waktu yang terbatas, ia memutuskan mempekerjakan satu orang yang khusus beternak cacing. Agar uangnya berputar ia juga menjual cacing kepada peternak budidaya belut lainnya di area yang tidak jauh darinya. Satu kilogram cacing seharga Rp25ribu, dalam sehari ia dapat menjual setidaknya 2 kg cacing dari hasil budidaya yang ia lakukan selama ini.

Selain membudidayakan cacing, Roni juga membudidayakan keong emas dan keong sawah  untuk pakan belut.  Untuk budidaya cacing, keong emas, dan keong sawah Roni bekerjasama dengan masyarakat Desa Cibanteng, desa yang tak jauh dari lokasi usahanya. Harga keoang emas atau keong sawah ia beli dari masyarakat sebesar Rp1500 per kg, ia kemudian menjualnya kembali kepada para petani belut yang memerlukannya.

 

Pantang Menyerah

 Ketiadaan modal, adalah salah satu kendala yang membuat rencana usahanya tidak dapat berjalan mulus seperti yang diharapkan. Namun mereka adalah tipe orang-orang yang ulet dan pantang menyerah, setidaknya ia tetap mencari jalan keluar terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi.

Meski dihadang berbagai kendala, ia tidak menyerah, bahkan kian kuat berikhtiar mencarai jalan keluar agar keinginan membuat usaha budidaya belut berhasil.

Suatu hari, ia memperoleh informasi adanya peluang untuk memperoleh modal usaha dari Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional yang dikucurkan melalui kampus-kampus di Indonesia. Bersama ketiga temannya, Roni membuat proposal untuk mendapatkan dana tambahan modal tersebut. Ia mendaftarkan usahanya untuk memperoleh penguatan dana usaha melalui program wirausaha mandiri yang diselenggarakan oleh DIKTI,  namun sayang, proposalnya tidak lolos.

Tak putus asa. Suatu hari ia mendengar ada Program Go Entrepreneur yang digagas oleh Perum Pegadaian di kampusnya. Melalui program ini ia mengirimkan proposal usaha. Ia menjelaskan dengan detail prospek usaha yang akan digeluti dan potensi bisnisnya di masa yang akan datang, termasuk manfaat besar yang dapat dilakukan jika ia memperoleh dukungan dana dari program dimaksud.

Setelah diumumkan, akhirnya ia merupakan salah satu dari sekian banyak proposal usaha yang ikut dalam Program Go Entrepreneur Pegadaian. Melalui program tersebut ia memperoleh dana hibah sebesar Rp8 juta. Dana tersebut ia gunakan untuk pengadaan peralatan, perlengkapan budidaya belut, perlengkapan pemanenan serta perlengkapan tambahan lainnya, dengan rincian digunakan untuk membeli belut sebanyak 105 kg, yang dibudidayakan di tiga petak kolam.

Setiap petak kolam 35 kg belut.  Belut yang ia pilih adalah jenis belut tangkap yang ia peroleh dari Cirebon. Agar belut bisa tumbuh sehat, sebelumnya di kolam diberi media seperti rumput, jerami, gedebok pisang, kotoran sapi yang sudah menjadi humus, dan  lumpur. Kolam juga dialiri air dan didiamkan selama dua bulan. Bila sudah dua bulan barulah kolam diisi dengan benih belut.Untuk pemeliharaannya, belut setiap hari diberi pakan berupa cacing dan keong sawah sebanyak 1,5 kg. Jumlah pakan yang diberikan adalah sebanyak 5 persen dari total perkiraan berat badan belut.

Diharapkan empat bulan setelah penebaran belut di kolam, belut sudah dapat dipanen dengan perkiraan panen sebanyak  20 kg belut setiap kolamnya per minggunya.Para tengkulak dari Jakarta dan Cipanas sudah banyak yang ingin menampung hasil budidayanya. Ini menandakan bahwa prospek bisnis belut memang menggiurkan.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari