Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Dwi Santoso Di Balik Bisnis Lidi dan Akar Wangi
Selasa, 09 Oktober 2012 15:47 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Indonesia memiliki produk kerajinan yang paling unik yang tidak dimiliki oleh masyarakat lain di dunia. Produk-produk kerajinan tersebut selain memerlukan ketrampilan khusus untuk membuatnya,juga memerlukan bahan baku yang kadang hanya ada satu-satunya di daerah tersebut. Dwi Santoso(32) pemilik usaha produk kerajinan dari tenun mendong, lidi, akar wangi dan bambu “Kindo” ini mengetahui potensi serta peluang bisnis kerajinan yang cukup besar di luar negeri.

Banyaknya pesanan produk-produk kerajinan seperti tenun mendong, lidi, dan akar wangi ke berbagai negara seperti Jepang dan Korea menandakan produk-produk kerajinan ini disukai oleh masyarakat di sana. Beberapa tahun yang lalu, melalui sebuah perusahaan eksportir produk kerajinan, ia mensuplay pengiriman 10.000 meter tenun mendong, serta 1000 pcs alas makan ke Korea Selatan. Sejak saat itu ‘Kindo’ dikenal sebagai perusahaan suplier aneka produk kerajinan dari bahan tenun mendong, lidi, akar wangi, dan bambu.

Perjalanan Dwi Santoso sebagai pengusaha produk kerajinan berawal dari pengalamannya sebagai penjaga toko yang menjual produk kerajinan milik seorang teman di Bantul, Yogyakarta. Saat itu ia bekerja sebagai penjaga toko yang menjual aneka produk kerajinan berupa tas dari bahan mendong, taplak meja, lidi-lidi unik, serta berbagai kerajinan dari bambu. Suatu hari datang seorang wisatawan yang ingin membeli aneka produk kerajinan ke toko tersebut dalam jumlah banyak. Jumlah yang disebutkan untuk pesanan tersebut terbilang cukup besar, karena mencapai ribuan jumlahnya.

Namun keinginan tersebut tidak dapat dikabulkan karena produk yang tersedia hanya beberapa saja jumlahnya. Saat itu, wisatawan tersebut menawarkan untuk dibantu memproduksi aneka barang kerajinan antara lain, kerajinan tenun mendong dan lidi, dan meminta Dwi Santoso yang membantunya. Bukan main senangnya hati Dwi, tetapi ia kembali bingung bagaimana ia harus merealisasikan pesanan yang diperolehnya? Mengerahkan Tetangga Sebagai pengrajin sekaligus penjual produk-produk kerajinan, Dwi memahami kekuatan yang dimilikinya, termasuk potensi masyarakat yang ada di kampungnya, di Dukuh Janti, Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta.

Masyarakat di sana, menurut Dwi, memang sehari-hari sebagian adalah pengrajin aneka kerajinan dari bahan mendong dan sapu lidi, tetapi selama ini jumlahnya relatif masih sedikit, dan pemasarannyapun hanya terbatas di kawasan Yogyakarta. Produk-produk kerajinan yang dihasilkan juga belum dinilai sebagai produk yang memiliki nilai ekonomis tinggai, hanya sebagai produk yang dihasilkan yang dibuat untuk memanfaatkan waktu luang. Untuk memulai mengerjakanorder pesanan tersebut, Dwi awalnya mengalami cukup banyak kesulitan. Pertama ia kesulitan
memperoleh modal untuk membeli bahan baku yang akan digunakan, serta membayar upah tenaga kerja yang diperlukan.

Kedua ia belum memiliki tempat kerja/workshop yang permanen. Ketiga, ia masih belum memiliki karyawan untuk membantu mengelola usahanya, manajaemen usaha semuanya dilakukan sendiri. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, Dwi mencoba melakukan langkah-langkah untuk memproduksi aneka kerajinan yang dipesan oleh pelanggan. Modal misalnya, ia mengajukan pinjaman Rp5juta ke Bank BRI sebagai modal awal untuk usaha. Di desanya ia mengerahkan hampir semua orang untuk mengerjakan pesanannya. Untuk mengejar tenggat waktu kerja agar selesai tepat waktu, ia mempersilakan para tetangganya untuk membawa pulang pekerjaan masing-masing, sehingga dapat dikerjakan di rumah. Hasil upah yang didapat juga tergantung dari hasil pekerjaan yang dilakukan.

Akhirnya, pesanan kerajinan dapat diselesaikan dengan baik, sehingga produk dapat diserahkan kepada pelanggan dengan baik pula. Pesanan kemudian, kian terus berdatangan, dengan jumlah semakin banyak. Untuk mendapatkan modal usaha, setelah pinjaman yang pertama lunas, Dwi mengajukan pinjaman lagi ke Bank BRI sebesar Rp20juta. Dwi cukup bangga usahanya yang digeluti mampu memberikan peluang kerja bagi masyarakat di desanya, serta meningkatkan nilai ekonomis kerajinan dari mendong dan sapu lidi.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari