Tanggal Hari Ini : 22 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
100 Hari Membangun Bisnis Kecil Bersistem (Bidang Kuliner) (Studi Kasus ‘Soto Ayam Ceker Favorit Suroboyo)
Jumat, 25 Juli 2014 15:16 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Setelah outlet dipoles menjadi lebih terang, lebih bersih, dengan pemilihan cat yang menyolok, dan produk ‘digarap’ secara serius, dengan pemilihan menu-menu yang khas, yang memiliki kekhasan dibanding resto-resto lainnya, kemudian  memastikan sistem bisnis berjalan dengan baik, sesuai standar yang ditetapkan, dengan target-target yang jelas, langkah berikutnya adalah memastikan team yang bekerja benar-benar memahami dan mengerti standar pelayanan yang berlaku di  Soto Ayam Ceker Favorit Suroboyo.

Untuk tahap awal dijelaskan mengenai tatacara penerapan resep,  standar memasak, dan penyajian, termasuk pelayanan kepada pelanggan.

Pada pembukaan outlet pertama belum dilakukan pelatihan khusus untuk hal-hal di atas kepada karyawan, tetapi setelah pembukaan outlet kedua dirasakan perlu adanya pelatihan khusus agar standar layanan benar-benar dapat diterapkan dengan baik.

 

Komunikasi Dengan Jelas

Ada hal yang harus dikomunikasikan dengan jelas dan tegas, dan terus dilakukan evaluasi sejak  hari pertama buka hingga hari-hari berikutnya kepada semua karyawan.

Evaluasi ini dilakukan secara menyeluruh dari cara penyediaan bahan baku berkualitas,manajemen stok,  pengolahan makanan, hingga penyajian kepada pelanggan. Termasuk beban tugas dan kewajiban setiap masing-masing karyawan. Tidak mudah membiasakan karyawan dengan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing karena mereka belum terbiasa bekerja dengan sistem dan target-target yang sudah ditentukan.

Masalah-masalah kecil yang sangat urgent harus diperhatikan. Pemilik usaha tahu bahwa untuk menaikkan omzet dan penjualan, memberikan kenyamanan kepada pelanggan itu sangat perlu, maka pelayanan harus diberikan yang terbaik kepada pelanggan, dibuatlah standar prosedur pelayanan yang maksimal, namun penerapan standar pelayanan ini agaknya belum  dapat  diterapkan sepenuhnya karena ada beberapa kendala.

Standar-standar tersebut antara lain standar melayani pelanggan, dari saat masuk hingga  menanyakan menu pesanan, mengucapkan terima kasih setelah pelanggan membayar di kasir dan meninggalkan outlet telah dibakukan, serta memberikan senyuman tulus dan ucapan terima kasih kepada pelanggan. Namun standar pelayanan tersebut belum menjadi kebiasaan,  masih perlu eduksi  yang terus menerus.

 

Memberi Contoh

Tingkat pendidikan karyawan yang berbeda-beda (mayoritas hanya lulus SD dan SLTP ) serta latar belakang sebagian besar dari karyawan yang belum memiliki pengalaman bekerja di rumah makan/resto dengan standarisasi yang ketat, memang tidak dapat disalahkan.

Cara terbaik untuk memberitahukan prosedur kerja dengan menerapkan standarisasi layanan selain harus  terus diingatkan dan terus disampaikan berulang-ulang, juga diberikan contoh-contoh nyata sekaligus.

Konsekuensi-konsekuensi bagi yang lalai atau malas menjalani prosedur juga sudah disampaikan berkali-kali, temasuk sangsi yang tegas jika ada yang melanggar atau lalai menjalankannya.

Hal kecil lainnya, seperti standar menjaga kebersihan outlet, cara melayani pesanan untuk di bawa pulang, hingga menyambut tamu yang datang, kadang belum sepenuhnya dijalankan dengan baik.  Bahkan pada minggu-minggu pertama buka usaha hal-hal tersebut di atas masih menjadi kendala.

 

Komplain

Semakin ramai pengunjung dan pelanggan yang datang, semakin banyak komplain dari para pelanggan. Komplain sebagian besar karena salah tulis pesanan. Pelanggan pesan Soto Ayam Tanpa Ceker, yang diantar malah Soto Ayam dengan Ceker. Pelanggan memesan Soto Ayam Ceker tanpa kol dan bihun, yang diantar malah dengan kol dan bihun. 

Konsistensi menjaga kebersihan semakin lama juga semakin menurun. Dalam hitungan hari, standar menjaga kebersihan menurun drastis jika tidak dikontrol secara ketat.

Karena awalnya karyawan direkrut dengan secara serampangan, dan tanpa standar kualitas yang memadai, tipikal dan jenis karyawan yang bekerja pun bermacam-macam. Ada yang malas, suka  main handphone saat bekerja, atau bahkan ngobrol dan menonton TV dan tak mempedulikan pelanggan.

 

Evaluasi dari Waktu ke Waktu

Tidak mudah menjalankan bisnis kecil bersistem. Perlu ketegasan dalam menjalankan semua standar yang telah ditetapkan.

Kita sebagai pemilik bisa saja memiliki wawasan dan standar-standar pelayanan yang tinggi kepada pelanggan untuk mencapai kesuksesan bisnis, namun jika pelaksana di lapangan pemikirannya ‘belum menjangkau’ dari apa yang kita pikirkan maka langkah untuk mendekatkan pemikiran itu harus segera dilakukan, caranya adalah dengan mendekatkan apa yang telah menjadi standar kerja, sebagai hal ideal yang harus dilakukan, dengan hasil kerja yang sudah dilaksanakan oleh karyawan.

 

Mengubah Mindset

Ada beberapa hal mendasar yang telah diubah sejak awal usaha ini berdiri, yaitu mindset bahwa pola kerja yang semula ‘dikelola dengan gaya kaki lima’ tanpa sistem,  diubah menjadi usaha kecil bersistem.

Kata ‘bersistem’ di sini sebenarnya merujuk pada pengelolaan usaha yang menggunakan pencatatan detail mulai dari pencatatan belanja hingga penghasilan usaha, bekerja dengan standar dan aturan baku yang ditetapkan, termasuk cara memasak nasi, cara membuat kuah soto, pengaturan api, standar pelayanan, dan lain-lain.

 

Tega Untuk Eliminasi

Bisnis mikro dan kecil termasuk bisnis kuliner ini dalam merekrut karyawan biasanya tanpa melalui proses evaluasi yang memadai terhadap kualitas calon karyawan. Awal-awal usaha biasanya mencari karyawan asal ‘cabut sana cabut sini’ dan mencari siapa yang mau bekerja.

Namun dalam penerapan bisnis kecil bersistem, standar-standar kompetensi calon karyawan harus dilihat. Sangat sulit bagi pemilik usaha menyerahkan pengelolaan usaha sepenuhnya kepada team yang bekerja jika kualitas dan kompetensinya belum dapat diandalkan.

Tidak jujur, malas, serta bekerja tidak serius, adalah hal-hal mendasar yang harus dievaluasi dalam menjalankan bisnis bersistem. Menciptakan semangat ‘self belonging’ kepada karyawan dalam mengelola bisnis adalah tantangan tersendiri. Tentu saja dengan konsekuensi memberikan reward yang memadai bagi mereka.

Namun jika prinsip-prisnip dasar standar kompetensi bagi karyawan tersebut tidak terpenuhi, sebaiknya jangan ragu untuk memulangkan mereka.

Langkah tegas untuk ‘mengeliminisi’ harus dilakukan karena jika ragu-ragu dapat meruntuhkan moralitas dan semangat kerja lainnya.

Setelah dilakukan evaluasi terhadap kualitas kerja masing-masing karyawan, kurang dari 60 hari, manajemen Soto Ayam Ceker Suroboyo terpaksa harus mengeliminasi beberapa karyawan. Awalnya langkah ini sangat berat, kasihan untuk memulangkan mereka, tetapi langkah tegas harus diberlakukan, karena bisnis dengan sistem memang menggilas bagi siapa saja yang tak siap untuk menjalankannya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Manajemen Soto Ayam Ceker Suroboyo Dalam Waktu 90 hari sudah membuka 3 outlet soto, dan 1 outlet bakso.  Menuju 100 Outlet milik sendiri di tahun 2017.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari